Aku yang terpaku pada waktu yang terbatas dan pada kondisi yang sangat kelam, hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidupku. Itu, karena aku hanya menatap dinding kamar dan pintu rumah. Padahal, seharusnya aku menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar rumahku.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.