Tidak pernah pergi menyingkap tabir, alas duduku hanya itu-itu saja. Siang hari aku diikat tali kemalasan, malam hari aku diajak pergi. Bertualang. Tempat-tempat ajaib belum pernah sekalipun dilihat. Tidak ada alasan. Tidak ada batasan. Inikah yang sering disebut mimpi?
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍