Pada hari yang sangat bercahaya, kupikir menepi adalah jalan yang akan mengubah cahaya menjadi mega sendu. Aku lepaskan diriku dari satu ikatan yang sesungguhnya tidak sama sekali mengikat, tapi rasanya mencekik, dan aku menepi. Setelah itu aku pergi. Aku biarkan sesuatu mati dalam hati. Buruk didengarnya tapi sangat amat tenang dirasa. Ternyata suatu waktu, setelah malam-malam air mata, akhirnya aku bertemu dengan kebeneran di kepala. Tidak apa-apa sendiri, semua itu akan berlalu. Sendiri tidak kesepian. Kesepian tidak menghilang walaupun keramaian terus menerus berkeliling. Berjalanlah, pada masing-masing parade dimana kita berjalan. Aku akan mencintai diriku lebih dari apapun. Setelah ini, tidak akan disambut dengan mesra kegelisahan yang selama ini menjadi hadiah. Memanglah, rela itu sifatnya sukar ditingkat paling tinggi. Lepaskan saja, cari, coba. Setelah itu aku bahkan mampu menari, sendiri. Sendiri dalam tenang. Sepi, kosong, gelisah, suatu hari semua itu akan berhenti. Cahaya tetap bercahaya, tidak ada sendu, tidak sedu. Rasa syukur dan refleksi indah dari sisi lain rasa sakit membuat siapapun tetap terang, walaupun sendiri. Jadi, tidak apa-apa. Tidak apa-apa.
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍