Pada hari yang sangat bercahaya, kupikir menepi adalah jalan yang akan mengubah cahaya menjadi mega sendu. Aku lepaskan diriku dari satu ikatan yang sesungguhnya tidak sama sekali mengikat, tapi rasanya mencekik, dan aku menepi. Setelah itu aku pergi. Aku biarkan sesuatu mati dalam hati. Buruk didengarnya tapi sangat amat tenang dirasa. Ternyata suatu waktu, setelah malam-malam air mata, akhirnya aku bertemu dengan kebeneran di kepala. Tidak apa-apa sendiri, semua itu akan berlalu. Sendiri tidak kesepian. Kesepian tidak menghilang walaupun keramaian terus menerus berkeliling. Berjalanlah, pada masing-masing parade dimana kita berjalan. Aku akan mencintai diriku lebih dari apapun. Setelah ini, tidak akan disambut dengan mesra kegelisahan yang selama ini menjadi hadiah. Memanglah, rela itu sifatnya sukar ditingkat paling tinggi. Lepaskan saja, cari, coba. Setelah itu aku bahkan mampu menari, sendiri. Sendiri dalam tenang. Sepi, kosong, gelisah, suatu hari semua itu akan berhenti. Cahaya tetap bercahaya, tidak ada sendu, tidak sedu. Rasa syukur dan refleksi indah dari sisi lain rasa sakit membuat siapapun tetap terang, walaupun sendiri. Jadi, tidak apa-apa. Tidak apa-apa.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.