Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan 61 Tangga Darurat

Selamat malam, selamat bersembunyi.   Sudah sampai mana dirimu? Bertemukah dengan muara kedamaian, meregup segala wujud harap? Atau mengulur waktu untuk bertemu kesempatan lain yang kau percaya itu adalah peruntungan. Dalam takdir, kelelahan sungguh sebuah hakikat, maka janganlah kau ragu pada hasilnya.  Lama sekali tak mendengar puisimu, masihkah hidup sungai yang mengalir? Kemana dirimu mengalir? Bukan apa, aku tak sudi mendengar kabarmu meluap atau kabarmu bertemu muara, karena yang terjadi sebelumnya semua orang takut padaku, atau pada kita?   Siapa yang lebih mengesankan? Dibunuhlah segala kasih dan ditinggalkannya segala kisah tepat diatas mejamu. Bukan untuk  tertawaan atau sebuah decak kagum, kau memahami apa yang aku perjuangkan. Kau dengan segala yang kau jaga, berteman peluh dan sakit, menerjang fana dalam keyakinan yang mulia. Mana yang lebih berkorban? Sungguh kita bertumbuh tangguh, betapa tidak mudah menjalin kisah yang syarat akan makna. Sepertinya ak...

Catatan 60 Hey, tunggu

Ingin pulang rasanya, ke negeri dimana semua yang ada adalah abadi. Bekalku sedikit, sedangkan perjalanan begitu panjang. Sayang sungguh sayang. Pada perjalanan yang akan mengantarku menuju gerbang awal kehidupan yang sebenarnya, janganlah Kau buat hati ini terlena. Sungguh kesenangan disini hanya sekelébat mata. Malang sungguh malang. Tak dinyana, aku bertemu dengan sungai yang sedang mengalir. Kukira alirannya sudah menjauhiku. Namun seperti aku pada keharusanku sekuat daya dan upaya dalam berprasangka, sepertinya, sejauh apapun air mengalir, tidak aka keliru ditakdirkan bermuara di lautan mana. Ingat, sejauh apapun, maka jarak mungkin tidak akan berarti, jika yang menuntunmu, membawa kau pada tinggi gelombang puan. Begitulah aku berbaik sangka kepada Allah, yang menciptakan langit bumi beserta seluruh yang ada padanya.  Perjalanan panjangku untuk pulang, dihiasi setitik binar mata yang tak bisa menahan rasa. Saat itu aku bergetar tak kuasa melanjutkan langkah menuju anak tangga...

Catatan 59 Jarak dan Rindu

 Selalu ada jarak antara ia yang merindu dengan ia yang dirindukan. Mengapa? pertanyaan yang paling mendasar dengan jawaban tersulit. Bisakah kita memutar pertanyaan menjadi sebuah hikmah? bisakah rasa keingintahuan diubah menjadi suatu keyakinan? konsep jarak yang tercipta sesungguhnya sejalan dengan konsep kehidupan. Bagaimana? bagaimana jarak yang jauh menumbuhkan keyakinan dalam hati seseorang, bagaimana ketidaktauan menciptakan suatu kepercayaan untuk beprasangka baik, layaknya lautan kehidupan yang sedang diarungi. Memang sudah seharusnya takdir dan apapun yang akan menghampiri dibuat rahasia, bahkan jarak antara kita sekarang ini dengan masa yang akan datang sama sekali tidak diketahui, lagi-lagi tentang jarak. Apakah 1 jam kedepan masih tersisa kehidupan? pikirkan.   Antara yang merindu dan yang dirindukan. Lebih daripada sekedar konektivitas hati, namun keyakinan dan kepercayaan yang menjadi pondasi kuat kehidupan. Kehidupan yang damai dan penuh penyerahan adalah...

A belated letter

  “Bersyukur kita tidak pernah bertemu lagi. Karena aku akan tenggelam dalam malu jika kau ada di hadapan. Aku datang mengetuk ruang hendak menyampaikan pesan yang sudah lama disimpan. Semoga kau berkenan. Tanpa izin dan sepengetahuanmu, sedikit lancang beberapa syair aku tulis dengan kau sebagai imagery dan tokoh utama, dalam rangka mengabadikan apa yang tidak mungkin tersampaikan. Kini sampailah padamu, pemiliknya.  Kalaulah ingat percakapan terakhir kita mengenai siapa yang mengagumi. Andai pengertianmu sampai pada lubuk, bahwa aku tidak sedang membicarakan orang lain, saat itu andai pengetahuanmu sampai pada jawabnya, bahwa akulah orang itu. Aku menghendaki kebaikan yang ada padamu. Mata orang yang yang jatuh hati seolah tak melihat cela, karena itulah aku perlu meluruskan pikiranku terlebih dulu. Aku harus menyadarkan diri terlebih dulu. Namun tetap di bagian akhir, yang paling utama adalah aku mengerti siapa diri ini. Apalah diri ini. Aku mengadu pundakku dengan peliknya...

Catatan 58 Pada Akhirnya

  Bap.. Bap, sesungguhnya hikmah yang Allah beri sudah lebih dari pada apa yang kuharap, untuk mencukupkan segala yang kurang dan hilang. Sebisa dan semampuku, selama nafas masih berhembus, aku akan meletakkan mereka di pundakku, aku menopang mereka di pundakku, namun Allahuakbar, sungguh Allah menopang seluruhnya yang ada padaku dengan penuh kasih dan cinta.   Allahumma inni asaluka yal`ahadusshamad yalladzi walamyulad walam yaqullahu kufuwan ahad. Allahumma inni as`aluka antaghfirali . Di hadapan engkau Ya Allah, seorang anak yang mengatasnamakan ibu bapaknya dalam catatan-catatan pilunya bersimpuh, memohon ampunan.  Maka aku ridho YaAllah, atas segala hutang pengasuhan dan hal-hal lain yang ditinggalkan. Sesungguhnya Ilmu-Mu sangat luas YaRabbi sedangkan kami begitu terbatas. Ya Allah Ya rahman Ya ghafur.. aku memohon kepada Engkau Ya Rabb dengan nama-Mu yang Agung, hanya dari sisi-Mu aku memohon, tiada sekutu bagi-Mu, ampuni aku dan kedua orang tuaku YaAllah.. am...

Catatan 57 Jangan Pergi

  Andai engkau dapat kumohonkan, mohon jangan cepat berlalu.. Dalam tingginya kemuliaan, aku masih ingin menuju. Kau, begitu cepat berlalu, begitu sulit diredakan semaraknya. Jangan cepat berlalu wahai bulan yang suci, aku tertatih, aku banyak mengeluh, aku ingin diampuni, tolong Ya Ilahi Rabbi..  pertemukan aku lagi, pertemukan lagi Ya Allah..