Langsung ke konten utama

Postingan

Buta Warna

Kali ini nona persembahkan sebuah pentas mengusung pengungkapan rasa rindu yang tidak pernah ada sebelumnya, untuk Bap diatas sana... atau dimanakah dirimu saat ini? Hey cintaku, tanggal ini adalah tanggalmu lahir sebagai bagian dari fana semesta. Walaupun nona mengetahui kau sendiri belum tentu ingat kapan tepatnya, tapi setidaknya itulah yang Bap karang.  Bap, setiap hari ini, nona mengingat segala suka dan sedih bersama Bap dalam kehidupan yang amat singkat. Bap, nona katakan ia sudah mencintaimu lagi, namun kali ini kadarnya lebih mulia karena dia sudah belajar ketentuan, dia sedang tertatih untuk berubah, katanya tidak ingin sepertimu. Padahal jika ditilik kembali, sungguhlah sengsara dan nestapa telah selesai menjadi makanan sehari-hari. Kau tegak berdiri disana bersama nafas beratmu, menghela sangat panjang sambil kau menahan sakit badan pun jiwa dan hatimu. Segala perasaan yang dibawa oleh ingatan masa lalu sudah tidak akan membuat nona  membangun benteng penyesalan. B...

Akankah aku mampu

Mengapa belum sampai ujung nafas yang membawa kesegaran bunga-bunga surga? Mungkinkah memang nona belum patut dan pantas Belum cukup, nikmati dahulu semilir harumnya taubat Namun kematian telah menjelma menjadi sesuatu yang tidak menakutkan, walau sebenarnya nona dipenuhi keraguan. Allah Tuhanku cinta.. tak mengapa bila kematian lebih baik bagiku. Izinkan aku menjadi hamba yang Kau rindu sebelum datang waktuku.  Aku disini YaTuhanku... Sampai akhirnya Kau panggil aku sebagai "jiwa-jiwa yang tenang", harapku yang paling tinggi Aku tak akan mampu berdiri lagi di muka bumi jika tanpa Engkau, antara merajut peradaban dan merajut kematian sungguh tak ada beda Indahnya semua sama, mendapat ganjaran surga Terima kasih karena tidak memberikan penghakiman kepada manusia. Terima kasih karena tidak Kau biarkan manusia terlalu menghukumi dirinya sendiri. Bolehkah nona jalang itu menjadi sekuntum bunga surga? Sampaikan pula salamku Ya Illahi kepada utusanMu yang mulia, biarkan dan antarka...

sumbangan bejana amal

  Betapapun kehinaan terpampang pada jendela seluruh muka, aku tetap pada usahaku menyusur. Aku tetap dengan Tuhanku. Allahu yahdik. Allahu yahdik.  "Lā taqnatū min rahmatillāh" memiliki makna yang cukup bagi diri untuk lekas berlalu bersama kafilah.  Allahu yahdik. 

Catatan 78 Pada malam diiringi rintik

  Apalah daya diriku ini Ya Illahi Selimut keangkuhan mulai terkikis diselingi ragu. Apakah aku memang sudah benar? Atau merasa benar? Apakah mereka yang mengalami fase yang sama berkata demikian? Menyikapi diri yang sudah lama menyembuhkan diri, terkadang keraguan tetap muncul pada satu titik. Apakah aku benar-benar sudah berubah?  Ternyata, semua itu diusahakan. Lagi dan lagi, harus setiap saat kuingatkan diriku dalam cermin, aku tidak istimewa. Siapakah aku berhak menuntut untuk tidak bersakit-sakit? Sementara jelas mereka yang mengaku beriman pastilah merasakan ujian. Ampun seribu ampun, lagi-lagi aku menumbuhkan duri.  Meski demikian, seperti apapun rusaknya puan di masa lalu, selama nafas masih berhembus teruslah berharap, teruslah mendekat walau tertatih. Teruslah bercermin pada apa yang terjadi, tanamkan pada taman jiwa bahwa selalu ada kebaikan dan hikmah di setiap ketetapan. Semoga Allah Ar-Rahman melapangkan, melembutkan, dan memampukan hati untuk senantiasa be...

Catatan 77 Apakah aku menang?

  29 Ramadan 1445 Detik-detik menuju berakhirnya bulan yang mulia, the beloved ramadan. Kerikil di hati mengganjal lepasnya resah dan gelisah, menuju hari yang mereka sebut sebagai hari kemenangan. Di hari-hari yang penuh keberkahan ini, kegirangan diri ini melihat manusia berlomba-lomba melakukan fitrahnya. Seyogyanya itu adalah normal sebagai laku dari seorang hamba.  Ada pula yang menyayat hati, ketika insan merdeka tidak menyadari hati dan jiwanya tetap terbelenggu. Sakit sekali melihat nilai-nilai dan kesempatan emas yang disia-siakan seolah ia tidak butuh Allah. Semoga Allah mengampuni diri yang begitu lemah, tak mampu menahan segala angkara dengan lisan dan perbuatan. Larut dalam sikap duniawi, meminggirkan amal-amal yang seharusnya diburu. Lemah, sungguh lemah. Apakah aku menang? Berada pada keadaan tersebut bagaikan berlayar tanpa tujuan atau berlayar dengan peta palsu. Semoga Allah mengampuni diri, mensucikan diri dari segala dosa. Cahaya illahi tetaplah menjadi peng...

Thoughts

  I will not say I’m yours, for that would be a lie. I gave myself to God along time ago and I never ask for myself back. If you want to find me, find God. If you want to love me, love God. But more importantly, you’ll find and love yourself. I’m not yours and you’re not mine. We belong to God and to Him we will return.