Langsung ke konten utama

Postingan

Menuntun kewarasan

  Menggelitik sisa otak kosongku, gagasan mengenai penyerangan individu mengatasnamakan kebijaksanaan. Harus aku pertanyakan lagi, apakah semua peperangan itu dilakukan atas nama cinta dan kasih atau sebuah perilaku mempertahankan kesukaan terhadap ide kepemilikan atau otoritas terhadap entitas yang disebut laki-laki? Apakah itu merupakan perilaku mempertahankan daya supaya tetap pada kelas yang tinggi, tidak disalahkan, bisa menyalahkan, merupa merana dan kuat tahan banting? Otak jongkok seperti punyaku, tidak bisa memahami perilaku tinggi berdiri macam itu. Kalaulah bisa ingin kutarik kakimu sebelum terbang pada asap sekam, pijaklah tanah! Pijaklah tanah! Sebelum merajut cinta, bertali kasih, menjahit rindu, pijaklah tanah! 
Bap… sore nanti, mungkin rumah itu akan selesai, berdiri dengan kokoh dan hangat. Disertai temaram lampu kasih yang membuat jiwa merasa cukup dan utuh. Mungkin sore nanti Bap, jika tidak… besok sore, besok lagi, lagi, lagi dan lagi.  Merajut benang cinta pada serpihan-serpihan kain hati adalah laksana berjalan pada lorong gelap. Hanya keyakinan bahwa ujung yang berpendar itu adalah titik temu kelapangan, kebahagiaan, kebijaksanaan, kemesraan. Hanya harapan bahwa lengan ini mampu merajut asa dan sukacita.    Kita hanya akan hidup sederhana, Bap. Tidak menuntut, tidak memaksa, tidak mengubah ia menjadi pesuruh. Begitu saja sudah sulit, apalagi yang hidup berbalut tuntutan. Ia yang sudah mengenal dan menyentuh hatinya akan mengerti bagaimana memperlakukan hidup dan kehidupan, termasuk orang-orang didalamnya.  Mungkin rumahnya tidak jadi terlihat, namun aku masih disini. Masih dengan cinta dan kerinduan, untuk Bap— untuk Bap saja. Mungkin nanti sayap-sayap indah itu akan...

Aku

Bahkan di dunia berhampar penuh makna, ia masih belum mampu mencari makna dari pentingnya mengisi bejana yang kosong pada hati. Agar tidak mengemis kasih itu. Bodohnya, ia percaya pada hal yang merobek nilai sampai merelakan dirinya jatuh dan melebur. Diinjak-injaklah segala perawannya. Sangat menyakitkan, sangat menyedihkan. Bahkan kata imbang tidak pernah imbang. Tidak akan lagi ia membuka sedikit saja ruang di hatinya, sudah cukup berantakan. Mulai dari mana lagi ia? Mulai dari mana lagi aku? 
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotšŸ¤

22 Mar 2025

Sastra adalah jalan menuju kedalaman pikir yang sangat humanis. Sastra adalah jalan menuju imaji yang berkelana, menyusuri ruang-ruang pikir yang liar, mengikis ceruk-ceruk kepala yang keras akan ego dan pikiran yang tertinggal. Sastra adalah rupa kehidupan yang tidak terbayang di sebegaian benak, membuka mata dan hati untuk maklum dan empati. Jika ada pihak yang membenci karya tulis terlepas yang ada didalamnya, maka sisi humanitasnya dipertanyakan. Siapa yang takut pada buku yang tidak bernyawa? Mengapa? Karena sejatinya sebuah karya dibuat oleh hati yang terbuka dan kepala yang berpikir. Maka bukan ia takut pada buku, melainkan takut pada buah pikir. Buah pikir yang mampu melahirkan kesadaran, kecerdasan, pemahaman, kebijaksanaan. Buah pikir yang mampu melahirkan perlawanan terhadap angkara murka yang sengaja memelihara kebodohan dan IMPUNITAS . Pahitnya, borok-borok itu justru terdapat pada pemimpin negara republik yang dibangun oleh keringat, darah, dan air mata---bahkan nyawa. Di...

Catatan 81

      Ada yang pongah berjalan tegap menginjak hampa kelam nasib orang lain yang hanya dianggap debu dunia. Ada yang berusaha menjadi Tuhan dalam hidupnya. Maka jangan menyalahkan mereka yang memicingkan mata mendengar kata agama karena bagi mereka itu hanya sebatas dogma. Apa yang disampaikan orang berbaju agama hanya karena merasa diri lebih mengenal Tuhan adalah seburuk-buruknya salah paham terhadap dirinya sendiri. Rasa malu yang ditimbulkan karena kesalahpahaman tersebut sangatlah tinggi sampai membuat seseorang tidak sanggup menatap bayang di cermin. Apa yang disampaikan hanyalah belati tajam yang mengiris setiap aib, mengupas cangkang luka seolah diri hidup hanya untuk dipermalukan iblis jahanam. Siapapun itu; pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan. Pencuri motor, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal, semua berhak selamat dari dogma, stigma, dan prasangka. Namun itu hanyalah niscaya...

Catatan 80

Siapa yang mampu menanggalkan kehendak dari kata-kata yang hanya terdengar, terucap. Sementara hati manusia sangatlah dalam palungnya. Aku berdiri pada ambang kesadaran mengenai jari jemari yang membelaimu beriringan dengan pertentangan dalam benak. Walaupun begitu, hati dan rasa adalah hal natural yang dimiliki ia yang merasa manusia. Situasi yang mengiringinya, orang yang membawanya pada kumuh bejana hatinya, terkadang membuat hati dan rasa bermacam bentuk dan warnanya.  Menjadi dewasa adalah normal dalam ketidaknormalan. Menguji seberapa gigih dan gagah pundak beradu dengan bengis takdir. Menjadi dewasa aku belajar banyak memaklumi sisi gelap, hitam, kotor, marjinal, tertindas. Dalam hidup, Tuhan memanglah sangat adil. Kita tidak selalu dihukum untuk dosa yang kita lakukan, namun penyesalan yang bersemayam dalam hati cukup sebagai hukuman itu sendiri. Tidak menghakimi jalan hidup seseorang dan bagaimana seseorang bertahan hidup. Normatif, namun percayalah ini adalah bagian sulit...