Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan21

  Seseorang yang memilih bunuh diri sebagai pilihan terakhir itu sangatlah salah, sangat bodoh, begitu bukan? Hampir semua orang berpikiran seperti itu. Aku tidak ingin mengatakan bahwa membunuh diri sendiri itu tidak salah dan tidak bodoh. Sungguh aku tidak suka berkata seperti itu. Namun aku sangat ingin menegaskan bahwa lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikis seseorang. Cara seseorang mengambil keputusan, menentukan arah kehidupan, mencari dan membentuk jati diri, itu semua sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, pertemanan, atau sekitar tempat tinggal. Jika seseorang memilih untuk terjun dari lantai 13 atau menggantung dirinya di balkon bahkan menyayat nadinya dengan begitu sakitnya, tidakkah terbayang betapa kejamnya lingkungan tempat dia bernaung, tidakkah terpikir apa yang salah dengan lingkungannya. Mengapa yang disebut bodoh hanya dia yang dengan pilu dan penuh tekanan berani menghilangkan nyawanya sendiri. Dimana mereka yang b...

Catatan20

Dear Mother,   Please, come back. You aren't a burden but our selfish is the real burden. You need to get it straight. Deep in my heart it's so painful to say that i don't miss u, maybe i didn't deserve you or i can't understand you but all family members are really need you. Have you ever known about unconditional love? That is our love for you. Just need to open your heart. I don't blame anything. I don't deny any mistakes. You know life was perfect years ago and we have through a lot of pain, we've seen things, isn't it enough? It's not ashamed when i have to beg but should I? We don't know another place to go, we can't make any right decision, you are the second director. Without you, I wouldn't be here. Sending love to your heart. May God bless every pieces of your life with a thousand of peace.                                                   ...

Catatan19

  Turut berduka cita untuk masa lalu yang sedang menangis, ingin terus mengikuti jejak kaki katanya. Kenyataannya, aku sudah tidak bersembunyi lagi, sudah tidak bernaung lagi dalam puing masa lalu yang sangat menyusahkan. Sudah lebih pandai bukan? Jatuh bangun aku meninggalkan semuanya, berlari dari masa dimana aku dongkol karena nasib. Masa dimana aku buta tentang penghargaan dan cara menghargai, hormat dan menghormati, cinta kasih dan mengasihi setulus hati. Sekuat hati aku keluar dari masa dimana aku tidak memiliki identitas, kesana kemari bersemayam dalam jati diri orang lain berharap dihargai dengan cara yang sama. Seperti tak waras menginjak bara demi keluar dari api, menangis aku memungut keberanian. Mengorbankan harga diri demi mendapat seorang teman, pada akhirnya aku tidak tahu pernah dianggap teman. Aku sangat berduka untuk itu. Maaf masa laluku, aku tidak bisa membawamu lagi. Maaf kau kehilangan aku dan maaf kau tidak tahu bagaimana aku bangkit seperti sinar bulan pada ...

Catatan18

  Semua orang memiliki dosa. Semua orang tidak sempurna. Namun ketidaksempurnaan manusia seakan menjadi alasan seseorang melakukan sebuah dosa. Tabu. Begitu banyak yang terjadi dan semuanya terasa begitu buta. Aku diam. Kelam malam sangat suram. Sungguh tak bisa kubayangkan apa yang ada dihati seseorang.   Betapa kuasanya engkau Tuhan. Memberi selagi dikhianati. Memaafkan selagi dibohongi. Mencurahkan segala nikmat padahal Engkau mengetahui segala kekejian. Sungguh, ampuni aku. Ketika aku melihat ke kanan, aku sangat benci hidupku. Namun ketika kulihat ke arah kiri, sungguh aku merasa berdosa. Ketika kulihat hidup yang lain penuh dengan warna, kontras dengan duniaku yang gelap, kucari letak salahnya. Dimana? Akan terus kucari. Walaupun andai kebenarannya adalah itu bukan kesalahan. Banyak tengkorak hidup yang tertarik mengorek masa lalu seseorang, mengambil semua yang busuk, lalu menghakimi. Banyak mayat hidup tidak sadar etika, seakan-akan mengungkap kebenaran padahal hanya...

Catatan17

Sepi. Hal pertama yang menusuk jantung ketika membuka mata. Memeluk diri ini sangat erat. Hari cerah tidak berpengaruh apa-apa pada hati. Teruslah bernafas dan hidup seadanya, hanya itu motivasi yang ada. Mengapa dunia terasa licik padaku? Padahal dia mendengar air mataku. Seperti ada batu besar pada pundak. Tangan dan kaki dirantai, kuncinya ia lempar pada setumpuk jerami. Saudari nan jauh menghubungi, kukira berniat menyambung tali, namun oh sungguh ternyata kepentingan pribadi adalah satu dan hanya satu yang menjadi tujuan. Mata pada zaman ini, semakin terbuka maka semakin gelap terasa nyata. Masam. Muram. Betapa luar biasanya hidup ini. Tanganku hampir patah, sudah berdarah. Aku menyerah.

Catatan16

  Wajah gelap menyinari hari. Tekuk suram tak tersungging berdiri lemas diambang pintu. Harus masuk? Atau keluar? Simalakama. Kutatap pilu dia yang pilu. Kau pikir kenapa yang gelap bisa bersinar? Itulah keajaiban. Kebaikan itu disematkan melalui cara yang luar biasa sakit. Aku pun berdiri diambang pintu. Langit ikut menangis untukku dari pagi buta. Berharap sinar terang benar-benar menyinari. Tidakkah terpikir oleh bapak saat membangun cinta biadab bersama anjing betina maka kau juga membangun tembok kemelaratan untuk kami semua? Apa daya sekarang kami terkurung dan tak berdaya. Harus menyalahkanmu? Tidak! Karena maaf seharusnya menjadi hal yang paling kau syukuri. Kuberikan secara percuma. Aku tidak pergi, tetap diam menikmati perjalanan. Masa lalu memberikan banyak hadiah. Puing-puingnya sangat menyusahkan! Bukan maksud meratapi, hanya sulit melupakan. Bagaimana tidak, kau taruh itu di atas kepalaku, kau suruh aku memeluknya bersama tidurku.

Catatan15

  Orang tua, tolonglah.. Tolong anak malang ini, tidakkah iba melihat hati yang tinggal satu jengkal? Menangis aku di sudut, bagaimana bisa iba, kau yang memotongnya, satu hasta, satu depa. Ingin mengucap yang ada tapi apa daya. Tak pantas ingusan bijak terhadap setengah baya. Namun seandainya kau lihat sedikit saja, tengok hati yang sebentar lagi berkarat. Bagaimana jika mati? Kembali ku menangis disudut, jika hatiku mati siapa peduli, tetap ia memaki. Sedikitpun tidak ia melihat sesuatu yang salah itu juga ada padanya. Tolonglah, tega engkau melihat aku mengemis pada diri sendiri? Haruskah juga padamu?