Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan 25 - Insecurity

  Riuh diluar sana, hanya aku yang sunyi disini. Atau telingaku saja telah membusuk? Terlempar ke kubangan kotoran mulut-mulut sampah yang sangat penasaran. Aku buang saja, berpura-pura tidak mendengar. Aku mencoba menjadi seorang sosial namun aku terlanjur membuang telingaku. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan, tanyakan. Suatu waktu, aku bertanya apakah itu kepedulian? Ternyata mereka hanya peduli pada suatu bersifat gunjingan. Aku menarik mahkotaku, sinarku, dan keberanianku, aku duduk pada ruang dingin di rumahku. Sendiri bersama ceritaku dan aku selamat dari berisik yang mencekik. "Untuk sementara ini, kita diam disudut ini, ada dinding sebagai teman dan kita akan baik-baik saja."   Aku sembunyi dalam senyuman, tertatih menegakkan tubuhku yang keropos digerogoti duka cita. Aku menyapa teman dengan sangat biasa, duduk diantaranya, mulai berkata-kata dan mereka tak percaya. Aku sedang menginjak bara tapi mereka menumpahkan bara, di kepala. Aku diam sungguh tak bany...

9.27

  Kembali lagi pada frasa dari hatiku, aku menyulam kata menjadi sebuah jalan. Tak kutemui caranya menyampaikan. Aku diam, duduk pada awan. Mengeja satu persatu apa yang ingin kutuang. Racun tertuang. Hatiku padam. Dilusi membunuhku dengan hati-hati dan pelan-pelan. Semacam berada dalam ruang tunggu, aku tidak bisa pergi. Hatiku tidak menang melawan insekuritas. Aku duduk pada awan, melihatmu berlalu lalang. Melihatnya, menarik kakiku. Melihat mereka, sedikit melirikku. Dari tempat aku duduk, aku cemburu pada duniamu. Pantas jika aku pijakkan kaki disana? Aku terlalu rendah diri untuk menyamakan kepalaku denganmu. Sulitnya melawan iblis dalam hati, andai kau lihat. Telingaku jatuh, mulutku busuk, apa lagi? Pergilah, tak kan kau temukan bahagia bersama aku yang melayang-layang, tidak pasti, tidak tetap. Kau lebih dari bunga dalam ceritaku, aku mencintaimu. 

Catatan 24 (Dear broken heart)

  Memindai benang yang tak terlihat, sia-sia tangan tertusuk. Kemarin, hari ini, dan seterusnya kau sengaja mengecat mawar menjadi hitam. Walaupun hujan melunturkan hitam, tetap gelap tak kau singkap. Semua itu mudah ketika hatimu rela. Tidak akan kau tertawa bersama duka, tidak akan aku melihat tinta hitam di wajahmu. Tentang hati yang patah, bukan milikmu saja yang patah, rusak, hancur tak bersisa. Semua hati kehilangan bentuknya. Dengan hatimu yang belum bisa memutuskan tali masa lalu, kau akan tercabik-cabik. Itu menggonggong kedamaianmu. Aku mohon, lepaskan! Kekangnya masih pada hatimu. Biarkan masa lalu pergi bersama air mata yang sudah mengering. Buang saja kain itu, benangnya sangat kusut, tak beraturan. Mengapa kau memelihara anjing di hatimu?   Aku tidak pergi meninggalkan kain di dapurmu. Aku hanya singgah sebentar disini, menjauh dari tusuk-tusuk jarum. Aku tidak bermaksud menyembuhkan luka di badanku, aku hanya tak sanggup mengucapkan luka di depan wajahmu. Aku s...

Catatan 23

  Mengenang hari dimana puan sangat sungkawa. Senyap disudut, gelap. Kau tahu seringai sudah lama pulang kampung, entah kemana. Berdiam diri disini, sebatas bercerita pada dinding, dingin. Mungkin aku harus sedikit menarik diri. Untuk apa? Bukan maksud membiarkan insekuritas menang, namun satu bagian dari dalam diri berteriak minta disembuhkan. Cemburu pada sosial begitu melelahkan hati. Bagaimana damainya? Terkadang semu bagiku, siapa yang lebih kejam? Wajah masam menatap dari cermin, muram, runyam. Siapa yang tangguh menerjang gelombang pasang? Dia bilang "yang melangkah!" Harus bagaimana aku memulai? Dia bilang "melangkah!" Bagaimana ini? Kacau sekali. Dia bilang "melangkah!" Tolonglah Wahai Sang Penguasa alam, aku ini keledai, aku ini tong kosong, hulu dan hilirku ada dalam genggaman. Dia menatap tajam, "kau pemenangnya!" Tatap muram, ratap runyam, menjelma, mewujudkan diri sebagai tekad. Kulihat wajah di cermin, ada yang bergelora disana. ...

Catatan 22 (For Mom)

  Ada riuh di kepala, katanya aku banyak memberi tuba untukmu dalam puisiku. Bukan, itu ungkapan kesedihan. Melihat kau yang kesana kemari tak beraturan, hatiku tak beraturan jadinya. Semua rasa dalam puisiku adalah aku. Ampun seribu ampun, sujud aku di kakimu, harus. Pikiranku terlempar kembali pada masa kau menepuk pundak dan berkata "semoga besar sabarmu". Aku, bukanlah wanita yang kau tancapkan pedang. Aku, hanya dipaksa tangguh. Semoga paksaan lambat laun menjelma menjadi keikhlasan.   Pada hati yang membara, setetes air mata jatuh memadamkannya. Hanya satu, kebaikanmu seperti tertutup gunung dimataku. Akupun berharap memeluk gunung. Padahal kau memegang tanganku, selalu. Peluh, lusuh, tak kau pedulikan. Malu, tak melulu kau hiraukan. Perjuangan yang paling murni adalah kau. Kurangmu banyak, kau menyakiti sangat banyak, namun tak apa. Sungguh sudah tak apa. Berharap aku memiliki sayap lebih kuat, ku bawa kau terbang ke hatiku. Jangan lihat hitamnya, akankah kau menger...

Catatan21

  Seseorang yang memilih bunuh diri sebagai pilihan terakhir itu sangatlah salah, sangat bodoh, begitu bukan? Hampir semua orang berpikiran seperti itu. Aku tidak ingin mengatakan bahwa membunuh diri sendiri itu tidak salah dan tidak bodoh. Sungguh aku tidak suka berkata seperti itu. Namun aku sangat ingin menegaskan bahwa lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikis seseorang. Cara seseorang mengambil keputusan, menentukan arah kehidupan, mencari dan membentuk jati diri, itu semua sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, pertemanan, atau sekitar tempat tinggal. Jika seseorang memilih untuk terjun dari lantai 13 atau menggantung dirinya di balkon bahkan menyayat nadinya dengan begitu sakitnya, tidakkah terbayang betapa kejamnya lingkungan tempat dia bernaung, tidakkah terpikir apa yang salah dengan lingkungannya. Mengapa yang disebut bodoh hanya dia yang dengan pilu dan penuh tekanan berani menghilangkan nyawanya sendiri. Dimana mereka yang b...

Catatan20

Dear Mother,   Please, come back. You aren't a burden but our selfish is the real burden. You need to get it straight. Deep in my heart it's so painful to say that i don't miss u, maybe i didn't deserve you or i can't understand you but all family members are really need you. Have you ever known about unconditional love? That is our love for you. Just need to open your heart. I don't blame anything. I don't deny any mistakes. You know life was perfect years ago and we have through a lot of pain, we've seen things, isn't it enough? It's not ashamed when i have to beg but should I? We don't know another place to go, we can't make any right decision, you are the second director. Without you, I wouldn't be here. Sending love to your heart. May God bless every pieces of your life with a thousand of peace.                                                   ...