Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan 48

Memandang mata sayu pada cermin buram, kelopak menghitam pertanda kelelahan. Pencarian yang tiada akhirnya, kecuali kematian. Merasakan tubuh bergetar menahan sakit, panas tubuh yang diluar normal, hingga suara yang tak karuan. Ya Allah, semoga lelah ini menjadi lillah..  Banyak orang bertanya untuk apa aku melakukan semua ini? Tidak lain untuk membela keluarga, membayar rasa bersalah, memohon pahala dan berkah, juga yang paling mulia, demi menggapai husnul khatimah. Akan kukejar namun tak akan sampai melekat. Dunia sangatlah sementara.  Ya Allah, aku tidak ingin tenggelam dalam pusaran dimana aku mengidamkan kehadiran sosok belahan jiwa. Engkau Maha mengetahui, Maha adil dan bijaksan, Ya Allah Engkau Maha teliti. Disaat seperti ini, sanagt mudah bagiku membayangkan sosok yang bisa menopangku, namun ingatkan aku Ya Allah bahwa satu-satunya tempatku bergantung hanyalah Engkau. Semoga rasa sakit ini dapat menjadi penggugur dosa. Semoga berkahMu tetap tercurah untukku, hambaMu, y...

Catatan 47

Tidakkah sampai pada tuan, rasa sulitnya?  Menundukan pandangan bahkan saat anda tepat di depan mata. Pijar menyala-nyala, hanya nama tuan hampir membuncah dari dalam asa. Menundukan pandangan berarti menjaga hati untuk tidak melanglang buana. Namun dengan mudahnya tuan beramah  tamah, anda pikir terbuat dari apa tembok ini. Sudikah aku menggenang bersama dosa yang sama? Tentu tidak. “Ingatkan aku YaAllah, bahwa segala keindahan yang tampak pada makhluk, tidak lain hanya setitik hiasan yang bisa kapan saja sirna. Ingatkan aku YaAllah, bahwa hanya kepada Engaku segala kekaguman tertuju, bahwa seluruh keindahan hanyalah milikMu.” Wahai tuan dan nyonya, dariku, untuk nama yang tak berani kesebut.

Binar

Kini saatnya merangkai dan melebur, kau yang semoga menjadi bahtera.  Bias rasa berbayang ruang renjana, daku meliputimu wahai yang sama gigihnya, sama gagahnya. "Saya lelah" dan tersenyum sayu tak berarti apa-apa, sesaat kemudian aku sadur pikir terdalam. Memekarkan, "anda begitu indah".  Tipuan atau khayalan? Pernahkah sekali saja yang tak nyata bisa begitu terasa? Kau, yang tak nyata, namun damba. 

Catatan 46 Kembali Pulang

 Duduklah aku pada gamang di kepala. Pada catatan ke 46 ini, kutulis perjalanan panjang untuk "pulang". Kenyataan bahwa aku lupa dari mana tempatku berasal dan akan kemana aku kembali adalah sakit yang luar biasa. Jika seseorang membaca catatanku dari awal yang berisi kepahitan, sungguh sebenar-benarnya kepahitan adalah dalam catatan-catatan yang tidak pernah aku tulis.  Sembilu adalah ketika kepercayaan pada Sang Pencipta memuai begitu saja, hilang entah kemana. Sakit yang paling sakit adalah berharap pada manusia. Dari awal aku telah salah memilih jalan, aku kesampingkan segala KemulianNya hanya untuk kenikmatan sesaat. Ya Allah jika ada mahkluk yang lebih hina dari perempuan ini, maka kuyakin itu tidak berakal. Karena yang berakal tidak mungkin sehina diriku.  Ya Allah, aku pulang .  Tidak melibatkanMu dalam setiap urusan adalah kekecewaan. Menyusuri lorong gelap, dengan telapak berdarah, aku menginjak harga diri yang sudah terseret-seret berlumur kotoran. Ya All...

Catatan 45

  Hai, tulang yang diliputi beban. Aku ingin memuji-muji diri untuk sekali ini saja. Tentang pengharapan yang kau terbangkan menuju yang Maha Bijaksana, yang bukan lagi tentang dunia, aku begitu terkejut sekaligus terharu. Dalam memainkan peran ganda, memang butuh energi yang ekstra. Aku si anak tengah yang dengan sedikit angkuh menopang saudara-saudaranya. Pagi ke malam hari, malam ke pagi hari. Lelahnya seakan ubun-ubun hendak meleleh. Mengorbankan waktu tidur yang luar biasa mahal. Sebenarnya apalah yang kucari? Dengar, relung hatiku berbicara, "pada setiap detik dimana aku berbuat dosa, setiap detik dimana aku menyiakan hidup, menyiakan waktu, setiap detik dimana aku menghilangkan nilai dan merusak diriku sendiri, setiap detik itu semoga lunas aku bayar dengan jalan yang saat ini aku perjuangkan. Jalan yang panjang. Semoga apa yang aku lakukan saat ini berbuah pengampunan dan pahala di sisi Allah. Semoga apa yang aku tanggung pada pundakku saat ini menjadi jalan bagiku untuk m...

Catatan 44

Yang terhormat, luka.  Wahai kau yang bersemayam di saku celana, aku atas nama pribadi mengucapkan terima kasih setulus yang pernah ada. Terima kasih telah menamparku tepat didalam hatiku, sehingga aku bertekad menjadi taat, kembali. Sekarang aku sudah lebih waras. Aku sudah bukan jalang dengan pedang menusuk ubun-ubun, aku wanita dengan diam sebagai perlindungan. Terima kasih hai kau yang menganga, aku tutup kau dengan tangan berdarah-darah, sudah.. sudah.. Aku terlalu berharga untuk kehadiranmu, silakan pergi atau tetap bersemayam. Namun hatiku bukan persemayaman, hatiku hidup justru untuk hal-hal menakjubkan yang kau bawa. Tidakkah itu membingungkan? Aku mengambil bunga yang indah dari peliknya penderitaan. Itulah, mengapa aku sangat menawan. Aku bukan bangkai yang menyisakan bau busuk, aku tidak berkarat.  Kepada engkau, wahai luka melarat, aku sudah tidak terjerat, hanya do’a dan harap yang membumbung terpanjat. Semoga kau lekas tamat, tepat, sesaat setelah kau buat aku s...

Catatan 43

 "Hatur nuhun" adalah ungkapan yang paling segar di dengar di telingaku malam ini. Sampai tak bisa kupejamkan seisi kepala. Betapalah sederhana namun begitu berarti. Duhai orang tua, ini sangat manis dan penuh cinta.  Mungkin kau pernah menangis sehari semalam wahai daku yang malang, namun buatlah keheningan dalam pikiran itu, sejenak, biar dia beristirahat. Ada peluh, ada pilu, Allah mengetahui itu semua mampu kau pikul. Pinjam sebentar sinjang nenek, pikullah   Hatur nuhun, untuk segala doa dan cinta, semoga gores keriput itu panjang umur, diberkahi cinta dan kasih melebihi yang telah kau panjatkan untukku.