Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan6

  Ternyata dia keliru tentang nikmatnya masa muda. Sekali mengotorinya, selamanya akan kotor. Karena kita hidup dalam masyarakat yang suka melihat pencitraan. Jika tidak ingin menanggung luka untuk apa kau jatuh cinta. Naif itu sering dikatakan bodoh. Padahal itu hanya jurus si polos tak berdosa. Bukannya tidak mengerti apa-apa, hanya saja melindungi kesuciannya. Muncul berbagai genre pergaulan di masa ini dan kau masih sulit menentukan sikap. Nikmatilah, nikmati masa konyol itu sebelum nanti tertampar karena sadar betapa tololnya cara hidup ini.

Kau!

  Aku sudah disini dari kemarin. Melihat apa yang kau dapat. Kuhadiahkan kau ruang, bahagiakah? Tersiksa itu bonus. Kau bertanya bagaimana aku hidup dan bernafas tanpamu, bodoh! Bukan maksudku untuk menghantui tapi dosamu yang menghantui hatimu. Kau baru dalam hal ini sehingga kau tidak mengerti apapun. Apa yang kau kejar? Apa yang kau perjuangkan? Semoga kau tidak hancur karena itu. Bagus sekali pengorbananmu. Semangatmu membara, ambisius, dan kau tendang semua cinta. Aku tidak percaya padamu, sama sekali. Kau jual namaku dalam tujuanmu. Kau membunuh cahaya. Kau kenal aku sebagai orang yang paling jahat dan aku mengenalmu sebagai orang paling bodoh. Pergi berjalan sejauh mungkin dan tunjukan apa yang kau dapat. Setelah sampai disana, jangan kau salah mengenai ketulusan. Karena sebelumnya kulihat kau buta untuk hal itu. Kau membedakan dirimu dari mereka padahal tetap sama. Sudah kau rasakan ruangnya? Begitu luas sampai kau lupa untuk pulang. Selamat menikmati waktumu yang menyenang...

Bangun,adik sayang

  Terombang-ambing sepanjang malam gelap menakutkan. Berharap perahu segera sampai perbatasan. Berharap jiwa yang tersisa segera terselamatkan. Sunyi, sepi, mencekam. Malam yang hitam pekat. Bertahan bersama jiwa yang tergoncang. Hati itu sudah tak bisa digambarkan lagi seberapa hancur keadaannya. Semoga arus tidak picik dan menggulingkan perahu ini. Membawa apa yang bisa dibawa, bersama tenaga dan pilu yang tersisa. Teringat sanak saudara yang entah masih bernyawa atau tidak. Ketidakadilan ini benar-benar nyata. Kekejaman ini sungguh terasa. Peluk erat, bayi itu menangis ditengah hujan. Dia tau bahaya tengah mengintai dirinya. Kedinginan dan kelaparan. Dia berhasil lolos dari tembakan siang tadi. Sudahkah kau sebrangi anak sungai dengan selamat? Masihkah kau lihat mayat anak-anak mengambang disana? Hatimu itu, akankah butuh waktu lama untuk sembuh? Geram juga pilu saat sebuah visual menunjukan adik kecil tunduk bersujud pada orang berjubah, tak berambut dan memegang tongkat. Inika...

Catatan5

 Siapa yang menyelami hidup siapa? Bagaimana bisa mengerti sudut pandang kalau telinga itu sebenarnya tidak ada. Berat terasa dalam hati namun keluh kesah itu tak terdengar. Menciptakan canggung tak berujung dan akhirnya kita bukan siapa-siapa. Dia bilang sikap yang ada sudah tidak relevan. Lupakan segala yang pernah terjadi di masa kecil tak berarti. Buta warna adalah duniaku. Duniamu berada diujung sana, berada jauh dari sini dan tidak buta untuk apapun.

Catatan4(teman)

  Masa lalu memberitahuku bahwa teman adalah sesuatu yang mudah menghilang. Ketika hati ini telah berkomitmen setulus hati untuk selalu bersama juga saling menjaga, hati yang lain hanyalah menganggap diri ini rival yang harus dikalahkan. Ketika hati bersyukur Tuhan mengirim hadiah dalam bentuk seorang teman, hati yang lain justru menganggap diri ini lawan yang berbahaya. Sungguh rasanya seperti dikhianati. Terlihat manis sekali padahal dalam hati tidak ingin kalah dan tertinggal sedikitpun. Mengakui keberadaan hanya ketika membutuhkan. Menengok keadaan hanya sebatas formalitas. Hanya karena hidup harus berteman, maka segala yang palsu dilakukan. Tersenyum padahal hatimu berpaling. Kenapa harus melakukan apa yang tidak ingin dilakukan? Untuk menjaga hati seseorang? Menjaga hati dengan memalsukan senyuman dan pujian yang terurai dari mulut itu? Rasanya ketulusan sudah menjadi barang langka. Jika benar saling menyayangi, mengapa kau picingkan mata ketika terjadi kesalahan? Membutakan ...

Catatan3(cinta pertama)

  Hati-hati dengan ranting kering nan penuh cagak itu, rapuh tapi bisa menusuk, akan berdarah jika lengah. Begitulah aku mengibaratkan diri ketika berada pada fase hidup yang sulit. Hari-hari diwarnai air mata berisi kepedihan. Diam dibungkam segala keterbatasan. Dunia terasa sepi, tak ada yang sudi berbagi energi denganku.   Hari itu kulihat wajah sendu itu. Kutatap seksama, membayangkan apa yang terjadi beberapa tahun terakhir. Sempat ku membenci dan tak ingin bicara sama sekali padanya. Kuanggap dia orang yang paling bersalah. Caraku memahami apa dan siapa itu cinta pertama benar-benar rumit. Begitu banyak yang harus dilalui untuk menyadari itu semua.  Melewati bertahun-tahun penuh kesunyian. Diam tidak bertegur sapa walau berada dalam atap yang sama. Sempat ku berpikir bahwa dia adalah yang terburuk. Namun Tuhan Maha Pengasih, tak Dia biarkan aku terus menerus berada dalam kesalahpahaman. Pelan-pelan es di hati mulai mencair. Terbayang kenangan masa kecil bersamanya,...

Catatan2

  Penderitaan salah sangka padaku dengan menganggapku teman lama yang merindukan untuk dikunjungi, dia datang silih berganti. Bahagia yang kubangun hancur lagi dan lagi. Dimana letak salahnya? Kubangun tembok kebahagiaan perlahan-lahan namun aku diyakinkan realita dan tembok itu hancur tanpa aba-aba. Ternyata bahagiaku hanya pura-pura. Keadaan bisa sangat mengerikan hanya karena masalah finansial. Hal klasik nan rumit yang membuat orang disini mengalami masalah emosional.  Keadaan mengolok-olok diri dan mencekiknya perlahan. Seperti hidup akan berakhir hari ini. Akan lebih parah jika jiwamu tandus, lalu kegelapan menenggalamkan diri ini. Jiwa yang putih berubah hitam pekat.  Terbelenggu dalam berbagai keterbatasan. Terasing dari kehidupan sosial. Kehilangan kepercayaan dan identitas. Kemiskinan membuat aku tertinggal. Semua itu sangatlah menyiksa. Karena bangun dari keterpurukan tidak mudah seperti gombalan motivator.    Anggap kisah hidup ini hanya dongeng seb...