Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan8

  Jadi kau ingin bahagia? Silahkan ubah pandangan terhadap beragam hal yang ada disekitar. Berhenti berpikir detail tentang kesedihan dan kegagalan, berhenti berpikir tentang seberapa kesepian diri ini, berhenti membiarkan mindset liar berlari terus menerus sepanjang hari dalam otak. Aku duduk terdiam di pagi hari menghadap jendela basah karena hujan yang tak henti, kubayangkan saat itu dia yang sedang terburu-buru menjemput ilmu, kubayangkan betapa tergesa-gesa karena hari memang sudah siang, kubayangkan dia berada diantara teman-teman 'jenius', interaksi seru dalam aktivitas yang tidak monoton. Untuk sejenak kubandingkan dengan diriku, sungguh bak langit dan bumi. Kulihat abu-abu diatasku, terus menangis seperti mengerti perasaanku. Kutatap baik-baik apa yang bisa aku tatap. Lalu kubayangkan diriku saat itu. Pagi ini aku bangun, memakai baju, aku bernafas, aku punya sarapanku, aku menikmati suguhan pagi hari Sang Pencipta,aku duduk dalam naungan yang melindungiku, betapa dibe...

Catatan7

  Keadilan itu nyata dan akan datang bersama kebahagiaan, yang aku percayai harus terus aku percayai, menggenggam keyakinan untuk selalu menerima dan bersabar sedangkan diri ini tergenggam tekanan hidup yang sangat kuat mencengkram. Harapanku, doaku, kemana perginya semua itu? Kikuk disudut kamar, hanya hawa dingin yang setia. Air mata tak terbendung. Aku merintih, mengemis pada diri kotor ini untuk tetap kuat, hapus air mata itu, dan berhentilah menangis. Itu adalah bagian tersulit. Karena mengemis pada diri sendiri lebih sulit dibanding kepada Sang Maha Kuasa. Akankah selalu seperti ini? Tidak adakah cahaya yang akan menghampiri, menuntun menuju sesuatu yang lebih lapang?

Bisikan si pilu untukku

  Semakin bertambah dewasa, kesepian semakin terasa. Semakin mengerti maka semakin sakit. Apa yang dahulu dipertanyakan, sekarang aku paham, apa yang terlihat sangat bijak tetaplah menyimpan ketidaksempurnaan. Nampak sekali bahwa semua tidak mengerti arti hubungan, kejujuran, dan saling mendukung. Obsesi dan kepentingan diri sendiri begitu dalam tertanam dalam hati. Kuberikan cinta yang besar bersama keringat, darah, dan air mata namun seakan itu tak terasa. Mengapa kesalahpahaman ini terjadi? Lelah dan penyesalan sudah tidak mengubah apapun, karena seakan cara hidup seperti patung sudah menjadi syarat mutlak dan takdir yang harus dijalani. Keliru memahami maka keliru pulalah hidup ini. Kuanggap angin lalu dan tak pernah ada kesalahan berduri tajam yang nampak di depan mata, namun satu kali kesalahanku dianggapnya bencana besar yang tak termaafkan. Keadilan itu aku pelajari darimu wahai orang tua. Kalau aku bicara, kau akan berdarah. Maka menahan diri adalah hal kecil untukmu. Kuta...

Catatan6

  Ternyata dia keliru tentang nikmatnya masa muda. Sekali mengotorinya, selamanya akan kotor. Karena kita hidup dalam masyarakat yang suka melihat pencitraan. Jika tidak ingin menanggung luka untuk apa kau jatuh cinta. Naif itu sering dikatakan bodoh. Padahal itu hanya jurus si polos tak berdosa. Bukannya tidak mengerti apa-apa, hanya saja melindungi kesuciannya. Muncul berbagai genre pergaulan di masa ini dan kau masih sulit menentukan sikap. Nikmatilah, nikmati masa konyol itu sebelum nanti tertampar karena sadar betapa tololnya cara hidup ini.

Kau!

  Aku sudah disini dari kemarin. Melihat apa yang kau dapat. Kuhadiahkan kau ruang, bahagiakah? Tersiksa itu bonus. Kau bertanya bagaimana aku hidup dan bernafas tanpamu, bodoh! Bukan maksudku untuk menghantui tapi dosamu yang menghantui hatimu. Kau baru dalam hal ini sehingga kau tidak mengerti apapun. Apa yang kau kejar? Apa yang kau perjuangkan? Semoga kau tidak hancur karena itu. Bagus sekali pengorbananmu. Semangatmu membara, ambisius, dan kau tendang semua cinta. Aku tidak percaya padamu, sama sekali. Kau jual namaku dalam tujuanmu. Kau membunuh cahaya. Kau kenal aku sebagai orang yang paling jahat dan aku mengenalmu sebagai orang paling bodoh. Pergi berjalan sejauh mungkin dan tunjukan apa yang kau dapat. Setelah sampai disana, jangan kau salah mengenai ketulusan. Karena sebelumnya kulihat kau buta untuk hal itu. Kau membedakan dirimu dari mereka padahal tetap sama. Sudah kau rasakan ruangnya? Begitu luas sampai kau lupa untuk pulang. Selamat menikmati waktumu yang menyenang...

Bangun,adik sayang

  Terombang-ambing sepanjang malam gelap menakutkan. Berharap perahu segera sampai perbatasan. Berharap jiwa yang tersisa segera terselamatkan. Sunyi, sepi, mencekam. Malam yang hitam pekat. Bertahan bersama jiwa yang tergoncang. Hati itu sudah tak bisa digambarkan lagi seberapa hancur keadaannya. Semoga arus tidak picik dan menggulingkan perahu ini. Membawa apa yang bisa dibawa, bersama tenaga dan pilu yang tersisa. Teringat sanak saudara yang entah masih bernyawa atau tidak. Ketidakadilan ini benar-benar nyata. Kekejaman ini sungguh terasa. Peluk erat, bayi itu menangis ditengah hujan. Dia tau bahaya tengah mengintai dirinya. Kedinginan dan kelaparan. Dia berhasil lolos dari tembakan siang tadi. Sudahkah kau sebrangi anak sungai dengan selamat? Masihkah kau lihat mayat anak-anak mengambang disana? Hatimu itu, akankah butuh waktu lama untuk sembuh? Geram juga pilu saat sebuah visual menunjukan adik kecil tunduk bersujud pada orang berjubah, tak berambut dan memegang tongkat. Inika...

Catatan5

 Siapa yang menyelami hidup siapa? Bagaimana bisa mengerti sudut pandang kalau telinga itu sebenarnya tidak ada. Berat terasa dalam hati namun keluh kesah itu tak terdengar. Menciptakan canggung tak berujung dan akhirnya kita bukan siapa-siapa. Dia bilang sikap yang ada sudah tidak relevan. Lupakan segala yang pernah terjadi di masa kecil tak berarti. Buta warna adalah duniaku. Duniamu berada diujung sana, berada jauh dari sini dan tidak buta untuk apapun.