Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan 32

  Singkat cerita, hai anak. Bagaimanapun redupnya, sinar tetaplah milik cahaya. Yang membuat gelap hati itu, apa kamu ketahui? Dosa, anakku. Tuhan pisahkan mawar dengan durinya karena sudah tak ada pantas. Sudahlah sudah, rela ada di paling tinggi dalam jatuh cinta. Kalaulah landak tak ada teman karena durinya, aku tak ada teman karena lidahku. Sudah surut, sudah kering kau keluar dari kubangan, ia baru hendak terjun kedalamnya. Dalam indah tipuan hawa nafsu, di atas angin melayang-layang bersama kebohongan dunia. Mari sayang, kita sederhanakan semua perih dan kehilangan. Mari, kita ucap segala harap baik untuk mereka yang pergi, yang sombong, yang hilang. Atau kita tertawa? Perempuan yang mengadu bengis takdir dengan pundaknya tidak akan bertemu patah oleh sebab keledai bodoh dan duri di keningnya. Kita ucap, “bertemulah dengan muaranya, dan jangan sekali-kali membenci salah satunya”     Sesungguhnya dialog pagi hari ini, antara aku dan Kau, hanya kita yang mengerti. Ses...

Catatan 31

Masa yang sangat letih itu melahirkan ketidakmampuan mengungkap rasa. Pandai memindai rahasia yang disimpan sedalam-dalamnya lubuk. Sampai aku temukan cara untuk mengeluarkannya perlahan-lahan, karena aku tidak ingin membusuk perlahan-lahan. Aku sebut ini seni mengubah derita lara menjadi sesuatu yang ramah untuk dirasa, melalui frasa. Menulis untuk menceritakan rasa adalah lapang dada. Mengemis rasa untuk menulis adalah benar, tapi memalukan. Ini adalah cara membuat rasa ngeri kebobrokan, kehinaan, kejalangan, perih hati, dan luka mendalam menjadi tidak sebajingan kenyataannya. Lebih ramah untuk dirasa.   Telah sampai aku pada puncak kehilangan, perih yang teramat dalam, semenjana sengsara meraja. Puncak! Dari semua puncak itu; dimana tubuh bergetar menahan dina, dimana sakit bukan lagi melukai, tapi membunuh. Aku sudah disana.   Pada ringkih penuh nanah, dengan tulus ikhlas, aku yang manis, melepas. Berdiri dengan nama Tuhan bersama sisa kebenaran di genggaman.  “Apa ya...

Catatan 30

   Pada hari yang sangat bercahaya, kupikir menepi adalah jalan yang akan mengubah cahaya menjadi mega sendu. Aku lepaskan diriku dari satu ikatan yang sesungguhnya tidak sama sekali mengikat, tapi rasanya mencekik, dan aku menepi. Setelah itu aku pergi. Aku biarkan sesuatu mati dalam hati. Buruk didengarnya tapi sangat amat tenang dirasa. Ternyata suatu waktu, setelah malam-malam air mata, akhirnya aku bertemu dengan kebeneran di kepala. Tidak apa-apa sendiri, semua itu akan berlalu. Sendiri tidak kesepian. Kesepian tidak menghilang walaupun keramaian terus menerus berkeliling. Berjalanlah, pada masing-masing parade dimana kita berjalan. Aku akan mencintai diriku lebih dari apapun. Setelah ini, tidak akan disambut dengan mesra kegelisahan yang selama ini menjadi hadiah. Memanglah, rela itu sifatnya sukar ditingkat paling tinggi. Lepaskan saja, cari, coba. Setelah itu aku bahkan mampu menari, sendiri. Sendiri dalam tenang. Sepi, kosong, gelisah, suatu hari semua itu akan berhe...

Catatan 29

   Akhir-akhir ini, malam hari sulit sekali terlelap. Semalam, aku bersama perempuan tanpa nama berjalan melewati keindahan ciptaan Tuhan. Kami melewati hijau pegunungan dengan batu-batu besar entah apa namanya, berada dibagian bawahnya. Langit cerah sangat indah, kami mendecak kagum atas apa yang terlihat. Aku bilang, “aku harus kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu”. Dia melihatku, seperti berkata “kenapa harus?”. Aku bergegas pergi ke lantai atas rumah yang penuh cahaya mengambil sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti itu apa. Niat ingin segera bergegas tapi saat kubuka pintu keluar, hendak menuruni tangga, semuanya gelap! Semua terlihat tua, usang, lapuk. Tangga yang tadi penuh cahaya berubah biru kehitam-hitaman. Aku lihat dari atas ruangan dibawah juga sangat gelap. Aku sangat takut menuruni tangga lapuk yang terasa sangat tinggi, aku tidak akan bisa. Aku berbalik arah menuju tangga yang satunya, dengan keyakinan bahwa aku harus keluar dengan selamat dan segera berl...

Tanpa Judul

Legam.. duduk pada arang Hitam iman ditemui duka Aku sakit, takut menemui sanak Harap anggap aku istimewa Kosong.. budak pikiran cacat kasih Haru membiru di kamar dingin Teman sakit, takut menggenggam angan Kau sungguh tak istimewa Sesungguhnya, nilai dan ukuran hidup, tidak ada pada banyaknya derita Omong kosong istimewa, kita semua sama Sering salah memilih jalan & tanggung jawab Derita diri yang tersiksa, bukanlah syarat mengasihi makhluk Kita sama, belajar cinta Tunduk! Meski putihmu tinggal setitik Mari sederhanakan harap Tetap sakit, senyum kita mengobatinya Ikhlas jiwa kita menerimanya Masih hitam, tapi tidak takut cahaya Aku melangkah memulai semua Perlahan, kasih sudah bukan kasat Semoga semua makhluk berbahagia

Catatan 28

  Tidak pernah pergi menyingkap tabir, alas duduku hanya itu-itu saja. Siang hari aku diikat tali kemalasan, malam hari aku diajak pergi. Bertualang. Tempat-tempat ajaib belum pernah sekalipun dilihat. Tidak ada alasan. Tidak ada batasan. Inikah yang sering disebut mimpi?

Catatan 27

  Menaiki bianglala raksasa sambil ketakutan gemetaran di setiap putarannya, seperti itu kira-kira aku menyusuri waktu. Sampai pada titik ini, yang tidak pernah diterka sebelumnya. Waktu sudah menunjukan bengisnya juga baiknya. Saat ini, sudah tak ada pedang menancap di jantungku bapa, juga tidak di jantungmu. Tuhan menyuruhku berhenti menyebutmu dalam catatan pilu. Tiada lagi yang harus disesali, bahwa kau merasa bersalah begitu dalam pada orang-orang tercintamu. Kau sudah selesai membayar semua, sudah tuntas. Tidak ada lagi bapa, perih hati dan beban yang kau tanggung-tanggung, Tuhan sudah menerbangkannya bersama asa menuju langit. Tuhan mencintaimu .  Lebih dari aku membutuhkanmu. Aku, sudah turun dari bianglala, aku tidak akan menikmati getar rasa takut lagi. Aku akan berjalan walau bertabrakan, aku siap menjadi pengganti letihmu. Biar aku yang lelah, sepertimu, bertebaran tanpa henti berdiri diatas rasa tanggung jawab. Aku, putrimu, mewarisi matamu, aku akan berjalan bap...