Langsung ke konten utama

Postingan

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan. 
 Ini adalah barisan sarang yang juga merupakan Pabrik Manusia. Di kota ini aku adalah alat dalam dua arti. Pertama, aku harus belajar dengan giat untuk menjadi alat kerja. Kedua, aku harus beruasaha keras sebagai wanita untuk menjadi organ reproduksi demi kota ini.  Sepertinya, aku gagal dalam kedua arti itu.  Makhluk Bumi Sayaka Murata, p. 45

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Catatan 82

  Aku berdiri kembali pada ambang kesadaran mengenai nilai dan keyakinan yang dicari setiap insan ditengah gemerlap semesta. Meskipun kesadaran-kesadaran akan keTuhanan telah didapat, meskipun nilai-nilai sastra dan budaya yang sangat humanis telah diregup, meskipun buku-buku telah selesai dibaca, puisi-puisi kembali terbuka, dan roda kehidupan berganti, manusia tetaplah manusia --tidak luput dari duri dan lumpur yang hina. Terkadang membutakan mata, menghilangkan ketenangan diri, melenyapkan sebagian damai, bahkan aku tidak mengenali diriku.    Dewasa ini, seperti begitu dicintai aku oleh semesta. Bukan karena keberuntungan yang bertubi-tubi, justru kegagalan yang bertubi. Setiap kulihat langit malam penuh bintang nan terang bulan diatas sana, saat itu juga aku merasa langit mengolokku atau aku yang begitu kecil dan hitam untuk suatu keindahan yang sebenarnnya tidak tergantung pada rasa seorang insan. Justru keindahan itu disajikan mungkin untuk menghibur mahluk payah in...
  Take the time just to listen When the voices screaming are much too loud Take a look in the distance Try and see it all Chances are that you might find That we share a common discomfort now I feel I'm walking a fine line Tell me only if it's real Still, I'm on my way (On and on it goes) Vacant hope to take Hey, I can't live in here for another day Darkness has kept the light concealed Grim as ever Hold on to faith as I dig another grave Meanwhile, the mice endure the wheel Real as ever And it seems I've been buried alive I walked the fields through the fire Taking steps until I found solid ground Followed dreams, reaching higher Couldn't survive the fall Much has changed since the last time And I feel a little less certain now You know, I jumped at the first sign Tell me only if it's real Memories seem to fade (On and on it goes) Wash my view away And I'm chained like a slave Trapped in the dark Slammed all the locks Death calls my name And it seems I...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Menuntun kewarasan

  Menggelitik sisa otak kosongku, gagasan mengenai penyerangan individu mengatasnamakan kebijaksanaan. Harus aku pertanyakan lagi, apakah semua peperangan itu dilakukan atas nama cinta dan kasih atau sebuah perilaku mempertahankan kesukaan terhadap ide kepemilikan atau otoritas terhadap entitas yang disebut laki-laki? Apakah itu merupakan perilaku mempertahankan daya supaya tetap pada kelas yang tinggi, tidak disalahkan, bisa menyalahkan, merupa merana dan kuat tahan banting? Otak jongkok seperti punyaku, tidak bisa memahami perilaku tinggi berdiri macam itu. Kalaulah bisa ingin kutarik kakimu sebelum terbang pada asap sekam, pijaklah tanah! Pijaklah tanah! Sebelum merajut cinta, bertali kasih, menjahit rindu, pijaklah tanah! 
Bap… sore nanti, mungkin rumah itu akan selesai, berdiri dengan kokoh dan hangat. Disertai temaram lampu kasih yang membuat jiwa merasa cukup dan utuh. Mungkin sore nanti Bap, jika tidak… besok sore, besok lagi, lagi, lagi dan lagi.  Merajut benang cinta pada serpihan-serpihan kain hati adalah laksana berjalan pada lorong gelap. Hanya keyakinan bahwa ujung yang berpendar itu adalah titik temu kelapangan, kebahagiaan, kebijaksanaan, kemesraan. Hanya harapan bahwa lengan ini mampu merajut asa dan sukacita.    Kita hanya akan hidup sederhana, Bap. Tidak menuntut, tidak memaksa, tidak mengubah ia menjadi pesuruh. Begitu saja sudah sulit, apalagi yang hidup berbalut tuntutan. Ia yang sudah mengenal dan menyentuh hatinya akan mengerti bagaimana memperlakukan hidup dan kehidupan, termasuk orang-orang didalamnya.  Mungkin rumahnya tidak jadi terlihat, namun aku masih disini. Masih dengan cinta dan kerinduan, untuk Bap— untuk Bap saja. Mungkin nanti sayap-sayap indah itu akan...

Aku

Bahkan di dunia berhampar penuh makna, ia masih belum mampu mencari makna dari pentingnya mengisi bejana yang kosong pada hati. Agar tidak mengemis kasih itu. Bodohnya, ia percaya pada hal yang merobek nilai sampai merelakan dirinya jatuh dan melebur. Diinjak-injaklah segala perawannya. Sangat menyakitkan, sangat menyedihkan. Bahkan kata imbang tidak pernah imbang. Tidak akan lagi ia membuka sedikit saja ruang di hatinya, sudah cukup berantakan. Mulai dari mana lagi ia? Mulai dari mana lagi aku? 
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

22 Mar 2025

Sastra adalah jalan menuju kedalaman pikir yang sangat humanis. Sastra adalah jalan menuju imaji yang berkelana, menyusuri ruang-ruang pikir yang liar, mengikis ceruk-ceruk kepala yang keras akan ego dan pikiran yang tertinggal. Sastra adalah rupa kehidupan yang tidak terbayang di sebegaian benak, membuka mata dan hati untuk maklum dan empati. Jika ada pihak yang membenci karya tulis terlepas yang ada didalamnya, maka sisi humanitasnya dipertanyakan. Siapa yang takut pada buku yang tidak bernyawa? Mengapa? Karena sejatinya sebuah karya dibuat oleh hati yang terbuka dan kepala yang berpikir. Maka bukan ia takut pada buku, melainkan takut pada buah pikir. Buah pikir yang mampu melahirkan kesadaran, kecerdasan, pemahaman, kebijaksanaan. Buah pikir yang mampu melahirkan perlawanan terhadap angkara murka yang sengaja memelihara kebodohan dan IMPUNITAS . Pahitnya, borok-borok itu justru terdapat pada pemimpin negara republik yang dibangun oleh keringat, darah, dan air mata---bahkan nyawa. Di...

Catatan 81

      Ada yang pongah berjalan tegap menginjak hampa kelam nasib orang lain yang hanya dianggap debu dunia. Ada yang berusaha menjadi Tuhan dalam hidupnya. Maka jangan menyalahkan mereka yang memicingkan mata mendengar kata agama karena bagi mereka itu hanya sebatas dogma. Apa yang disampaikan orang berbaju agama hanya karena merasa diri lebih mengenal Tuhan adalah seburuk-buruknya salah paham terhadap dirinya sendiri. Rasa malu yang ditimbulkan karena kesalahpahaman tersebut sangatlah tinggi sampai membuat seseorang tidak sanggup menatap bayang di cermin. Apa yang disampaikan hanyalah belati tajam yang mengiris setiap aib, mengupas cangkang luka seolah diri hidup hanya untuk dipermalukan iblis jahanam. Siapapun itu; pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan. Pencuri motor, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal, semua berhak selamat dari dogma, stigma, dan prasangka. Namun itu hanyalah niscaya...

Catatan 80

Siapa yang mampu menanggalkan kehendak dari kata-kata yang hanya terdengar, terucap. Sementara hati manusia sangatlah dalam palungnya. Aku berdiri pada ambang kesadaran mengenai jari jemari yang membelaimu beriringan dengan pertentangan dalam benak. Walaupun begitu, hati dan rasa adalah hal natural yang dimiliki ia yang merasa manusia. Situasi yang mengiringinya, orang yang membawanya pada kumuh bejana hatinya, terkadang membuat hati dan rasa bermacam bentuk dan warnanya.  Menjadi dewasa adalah normal dalam ketidaknormalan. Menguji seberapa gigih dan gagah pundak beradu dengan bengis takdir. Menjadi dewasa aku belajar banyak memaklumi sisi gelap, hitam, kotor, marjinal, tertindas. Dalam hidup, Tuhan memanglah sangat adil. Kita tidak selalu dihukum untuk dosa yang kita lakukan, namun penyesalan yang bersemayam dalam hati cukup sebagai hukuman itu sendiri. Tidak menghakimi jalan hidup seseorang dan bagaimana seseorang bertahan hidup. Normatif, namun percayalah ini adalah bagian sulit...

Love

The butterfly needs to be calm down, the explosion doesn't reach the highest rank anymore but touch the bottom of the heart; the garden of the soul; the beauty of the eyes. The body doesn't feel burnt but warm. All you have just slow and relax. Sometime you feel like being bewitched body and soul just because you see the sky, the sun and the moon at their finest, you see life differently. It's safe and sound. That's love. Love. A mature love. 
Rumah, ada jarak yang merupakan tumbuhnya bentang rindu Aku, merawat harap pada apa yang membentang menujunya Untuk manusia-manusia marjinal yang tetap kokoh berdiri di pinggiran kota, kusam, keriput, berbaur bersama semilir angin dan rintik hujan di pelipir asa, tenang dan nyaman semoga menghampiri bertubi-tubi.

BUDAK DEMOKRASI

Apa yang ada di pikiran saya setiap digelarnya kontestasi politik adalah rakyat masih sangat bodoh. Apabila saya terlalu keras dalam berbahasa jangan salah mengira bahwa pikiran dan hati rakyat lebih keras dari kebodohan yang saya ucap. Rakyat disuguhkan dengan kenyataan bahwa rakyat adalah pemegang tertinggi kekuasaan, yang pada kenyataannya rakyat hanya diperalat, diiming-imingi, diperbudak, dibodoh-bodohi, oleh pejabat yang dipilihnya sendiri. Ini membuktikan bahwa rakyat Indonesia sangat tidak siap dengan demokrasi. Demokrasi ditangan rakyat yang masih mudah disetir, mudah dobodohi, mudah diprovokasi, hanya akan melahirkan pejabat pemerintah yang saya rasa tidak jauh dari sistem feodal; hanya mementingkan dirinya dan kroninya. Fenomena serangan fajar menunjukan bahwa pemerintah dan pemegang kuasa tak ubahnya seperti Marie Antoinette yang melempar kue pada budak-budak miskin. Suara untuk 5 tahun dibeli dengan seliter minyak goreng dan beberapa genggam beras. Ada lagi yang sangat men...

Logika Mistika

Logika mistika. Saya temukan istilah ini dalam buku Madilog karya Tan Malaka. Butuh berkali-kali mengulang agar bisa memahami apa yang ingin disampaikan Tan Malaka mengenai logika mistik dalam buku tersebut. Saya kagum bahwa di jaman itu, sudah ada anak bangsa yang memiliki pola pikir seperti Tan Malaka. Terlepas ideologi politik Tan Malka dikala itu yang seperti cenderung kiri, serta segala intimidasi dari rezim kala itu, Tan Malaka dengan segala ide-idenya tetap membuat saya kagum. Kemudian saya sampai pada kesadaran bahwa logika mistika yang dikemukakan Tan Malaka puluhan tahun lalu masih sangat eksis hingga kini di tengah masyarakat Indonesia. Masyarakat masih terkungkung oleh ide-ide tidak berdasar yang membatasi karunia  kehidupan pemberian Illahi. Ide-ide mereka mengenai segala hal mistik membawa masyarakat pada pola pikir baru: pola pikir yang berorientasi pada mistik, semu, tidak nyata. Saya mengambil contoh dari background keluarga saya sendiri. Budaya yang kaya dalam set...
Saat pintu-pintu dibuka, bukan mutlak bahwa harum bunga yang manis nan segar yang datang di pelataran. Kita datang,  namun kita berdoa, namun kita menatap langit, namun kita menerbangkan asa. 
Tidak ada tanda-tanda bunga akan mekar di sisi bejana, tak ada yang mampu mengubah takdir.  Jika air telah menggenang, maka buatlah jalan untuknya mengalir.  Tidak perlu malu untuk tersedu, hanya ada kita disini.  Semua tak akan mampu mengubah cinta.  Cinta yang disandarkan dengan benar tidak akan menemui kecewa walaupun lebur tak bersisa.  Dia kembali utuh dalam bentuk yang lain, dengan cara yang lebih indah.  Pertama-tama, bebaskanlah jiwa dari belenggu asa,  sungguh itu adalah tipuan yang menyengsarakan diri.  Kemudian berjalanlah, bahkan berlari jika kau mampu, berlarilah untuk mengejar cahaya.  Aku mengerti bahwa pada kesempatan ini,  jiwa diliputi oleh banyak kegelapan yang membawa sendu matamu.  Kita sama-sama melepaskan diri dari kegelapan. Sakitnya, kegelapanmu adalah aku.  Mulai dari merasa diri tidak istimewa, akhirnya diri mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan. Semoga tidak pernah lagi dalam taman jiwamu, dari lis...